Sunday, August 7, 2016

KKN 29 UTM Ajarkan Menulis, Membaca dan Berhitung Ibu-Ibu Lansia Karang Asem

Kegiatan Mengajar Aksara kepada bapak-ibu buta aksara dilakukan sejak tanggal 30 Juli 2016. Kegiatan tersebut kemudian rutin dilaksanakan setiap dua hari sekali. Keinginan kuat dari bapak-ibu atas kesan pertama belajar baca-tulis yang menyenangkan telah menjadi motivasi tersendiri bagi mahasiswa KKN kelompok 29 untuk melanjutkan kegiatan tersebut. Meski sedikit disayangkan karena baru dilaksanakan pada tanggal 30 Juli akibat kesibukan dalam pelaksanaan program kerja utama yaitu Pemberdayaan Aparatur Desa juga kegiatan pendukung mengajar di sekolah, madrasah, dan TK.
Sebelumnya, mahasiswa KKN UTM kelompok 29 membagi kepanitiaan untuk bagi kerja dan yang paling penting yaitu melakukan kunjungan ke warga untuk mendata warga yang buta aksara. Mendapatkan pendampingan dari Muarifah dan Istikomah selaku pemuda Karang Taruna, pendataan lebih mudah dilakukan karena dapat langsung tertuju ke rumah-rumah warga yang buta aksara. Mengetuk pintu dari rumah ke rumah untuk bertamu dan mulai persuasif mengajak warga buta aksara belajar baca-tulis.
Tidak mudah mengajak mereka yang sudah udzur belajar. Ada rasa malu, takut, malas, capek, keluhan sibuk mengurus anak, dan terkadang keluhan sakit menjadi tantangan yang harus bisa dihadapi oleh kelompok KKN 29. Terdapat sebelas orang yang rata-rata lansia  berusia mulai dari 55 tahun sampai 70 tahun di Dusun Karang Asem Dejeh yang datang belajar aksara.
Butuh ketelatenan mulai dari pendataan dan penjemputan dari pintu ke pintu rumah karena mereka membutuhkan dorongan positif untuk melek aksara. Namun setelah merasakan proses belajar mengajar pertama kalinya bersama mahasiswa KKN kelompok 29, mereka berinisiatif sendiri untuk minta belajar tiap malam. Ada rasa kekeluargaan yang mulai tercipta. Setelah didiskusikan dan diputuskan oleh penanggung jawab program kerja dengan menimbang-nimbang padatnya kegiatan, akhirnya  Mengajar Aksara Kepada Bapak-Ibu Buta Aksara dilaksanakan dua hari sekali setelah sholat Maghrib.
Pertama, yaitu belajar mengenai pengenalan huruf, berikut cara menuliskannya di buku tulis. Kemudian angka, cara mengeja, dan berlanjut ke membaca kata persuku kata, gu-ru, pe-ta-ni, me-nu-lis, dan kata lainnya. Meski tidak bisa berbahasa Indonesia, mereka bersemangat belajar bahkan ingin membawa bukunya untuk dipelajari saat mencari rumput di sawah. Mulai menyadari bahwa belajar baca tulis itu mudah. “Cek lesonah ngarek Bu”, kelakar Haji Zainab ketika menggoreskan aksara dari papan tulis untuk disalin ke dalam bukunya. (ap)

0 comments:

Post a Comment